Cerita Sex Akhirnya Adik Tiriku Jadi Pemuas Nafsuku

Cerita Sex Akhirnya Adik Tiriku Jadi Pemuas Nafsuku – Pengalaman sex ku yang satu ini saya berharap kenalkan dahulu namaku Ben. Cerita Dewasa ini diawali, waktu saya SMA kelas 3, waktu itu saya baru sebulan tinggal sama ayah tiriku. Ibu menikah dengan orang ini sebab tak bendung hidup menjanda lama-lama. Yang saya tak sangka-sangka rupanya ayah tiriku punya 2 buah hati cewek yang keren dan seksi habis, yang satu sekolahnya sama denganku, namanya Lusi dan yang satunya lagi telah kuliah, namanya Riri.

Semenjak Lusi layak sekali jikalau dihasilkan bintang iklan obat pembentuk tubuh, nah jikalau si Riri paling layak untuk iklan BH sama suplemen payudara. Aku pertama saya tinggal, saya senantiasa berangan-angan bahwa bisa mempunyai mereka, namun angan-angan itu senantiasa buyar oleh beragam hal. Dan siang ini kebetulan tak ada orang di rumah kecuali saya dengan Lusi, ini juga saya sedang kecapaian sebab baru pulang sekolah.

“Lus! entar jikalau ada perlu sama saya, saya ada di kamar,” teriakku dari kamar.

Saat mulai menyalakan komputerku dan sebab saya sedang suntuk, saya mulai dech surfing ke laman-laman porno kesayanganku, namun enggak lama kemudian Lusi masuk ke kamar sambil bawa buku, kelihatannya ia berkeinginan tanya pembelajaran.

“Ben, kemaren kau udah nyatat tentang cerita sex belom, saya pinjem dong!” katanya dengan bunyi manja.

Tanpa memperdulikan komputerku yang sedang memutar film BF melewati dunia maya, saya mengambilkan ia buku di rak bukuku yang jaraknya lumayan jauh dengan komputerku.

“Lus..! nich bukunya, kemarenan saya udah nyatet,” kataku. Lusi tak memperhatikanku namun pun melihat film BF yang sedang di komputerku.

“Lus.. kau bengong aja!” kataku pura-pura tak tahu.

“Eh.. iya, Ben kau nyetel apa tuh! saya bilangin bonyok loh!” kata Lusi.

“Eeh.. kau barusan kan juga liat, saya tau kau menyenangi juga kan,” balas saya.

“Mending kita nonton sama-sama, hening aja saya tutup mulut kok,” ajakku berupaya mencari kans.

“Bener nich, kau kagak bilang?” katanya ragu.

“Suwer dech!” kataku sambil mengambilkan ia bangku. Lusi mulai serius menonton tiap-tiap adegan, meskipun saya serius untuk terus menatap tubuhnya.

“Lus, sebelum ini kau pernah nonton bokep kagak?” tanyaku.

“Pernah, noh saya punya VCD-nya,” jawabnya. Wah edan juga nich cewek, membisu-membisu badung juga.

“Tetapi ML?” tanyaku lagi.

“Belom,” katanya, “Melihat.. kalo sendiri sich sering kali.”

Wah makin berani saja saya, yang ada dalam pikiranku kini hanya ML sama ia. Bagaimana caranya si “Beni Junior” dapat puas, tak peduli saudara tiri, yang penting nafsuku sirna. Tenang dadanya yang naik-turun sebab terstimulasi, saya jadi kian terstimulasi, dan batang kemaluanku malahan makin tambah tegang.

“Lus, kau terstimulasi yach, ampe napsu gitu nontonnya,” tanyaku memancing.

“Iyah Betul Ben, Tunggu bentar yah. Wa mau ke kamar mandi dulu ya…,” katanya

“Eh.. ngapain ke kamar mandi, nih liat!” kataku menunjuk ke arah celanaku.

“Kasihanilah si Beni kecil,” kataku.

“Pikiran kau jangan yang tak-tak dech,” katanya sambil meninggalkan kamarku.

“Kamu aja, rumah kan lagi sepi, saya tutup mulut dech,” kataku memancing.

Dan rupanya tak dia gubris, pun terus berjalan ke kamar mandi sambil tangan kanannya meremas-remas buah dadanya dan tangan kirinya menggosok-gosok memeknya, dan hal inilah yang membuatku tak menyerah. Kukejar terus ia, dan sesaat sebelum masuk kamar mandi, kutarik tangannya, kupegang kepalanya lalu kemudian segera kucium bibirnya. Sesaat dia menolak namun kemudian dia pasrah, pun merasakan tiap-tiap permainan lidahku.

“Pelan akan saya berikan pengalaman yang paling memuaskan,” kataku, kemudian kembali melanjutkan mengecupnya.

Tangannya membuka pakaian sekolah yang masih kami kenakan dan juga dia membuka BH-nya dan meletakkan tanganku di atas dadanya, kekenyalan dadanya amat berbeda dengan gadis lain yang pernah kusentuh.
Tidak dia membuka roknya, celanaku dan celana dalamnya.

“Kita ke dalam kamar yuk!” ajaknya sesudah kami berdua sama-sama bugil, “Terserah kaulah,” kataku, “Yang penting kamu akan kupuaskan.”

Ia kusangka dia berani menarik penisku sambil berkecupan, dan pelan-lahan kami berjalan menuju kamarnya.

“Ben, kau tiduran dech, kita pake ’69′ berkeinginan tak?” katanya sambil mendorongku ke kasurnya.

Tidak mulai menindihku, didekatkan vaginanya ke mukaku sementara penisku diemutnya, saya mulai mengecup-kecup vaginanya yang telah berair itu, dan bebauan kewanitaannya membuatku kian gigih untuk segera memainkan klitorisnya.

Ia lama sesudah kumasukkan lidahku, kutemukan klitorisnya lalu saya menghisap, menjilat dan kadang kumainkan dengan lidahku, sementara tanganku bermain di dadanya. Ia lama kemudian dia melepaskan emutannya.

“Jangan hentikan Ben.. Ach.. percepat Ben, saya berkeinginan keluar nich! ach.. ach.. aachh.. Ben.. saya ke.. luar,” katanya beriringan dengan menyemprotnya cairan kental dari vaginanya. Dankemudian ia lemas dan tiduran di sebelahku.

“Lus, sekali lagi yah, saya belum keluar nich,” pintaku.

“Bentar dahulu yach, saya lagi capek nich,” jelasnya. Jika tak peduli kata-katanya, kemudian saya mulai mendekati vaginanya.

“Lus, saya masukkin kini yach,” kataku sambil memasukkan penisku pelan-lahan.

Kelihatannya Lusi sedang tak sadarkan diri, ia cuma terpejam coba untuk beristirahat. Pelan Lusi masih sempit sekali, penisku dijadikan hanya membisu mematung di pintunya. Tidak kubuka dengan tangan dan terus kucoba untuk memasukkannya, dan hasilnya sukses penisku masuk setengahnya, kaprah-kaprah 7 cm.

“Jangan Ben.. entar saya hamil!” katanya tanpa berontak.

“Jika udah mens belom?” tanyaku.

“Udah, baru kemaren, emang mengapa?” katanya.

Sambil saya masukkan penisku yang separo, saya jawab pertanyaannya, “Tetapi gitu kau kagak bakal hamil.”

“Ach.. ach.. ahh..! sakit Ben, a.. ach.. ahh, perlahan-perlahan, aa.. aach.. aachh..!” katanya berteriak sedap.

“Kamu aja hanya sejenak kok, Lus mending doggy style dech!” kataku tanpa melepaskan penis dan berupaya memutar tubuhnya.

Tidak menuruti kata-kataku, lalu mulai kukeluar-masukkan penisku dalam vaginanya dan kupikir dia malahan mulai terstimulasi kembali, sebab kini dia menanggapi gerakan keluar-masukku dengan menaik-turunkan pinggulnya.

“Ach.. a.. aa ach..” teriaknya.

“Sakit lagi Ben.. a.. aa.. ach..”

“Aku aja, hanya sejenak kok,” kataku sambil terus bergoyang dan meremas-remas buah dadanya.

“Ahh… Benn… pengen… ahh.. keluar… lagi Benn…” katanya.

“Tunggu sejenak yach, saya juga pengen nich,” balasku.

“Cepetan Ben, enggak bendung nich,” katanya kian menegang.

“A.. ach.. aachh..! yach kan keluar.”

“Jika juga Say..” kataku kian pesat menggenjot dan hasilnya setidaknya enam tembakan spermaku di dalam vaginanya. Kucabut penisku dan saya memperhatikan seprei, apakah ada darahnya atau tak? namun tenyata tak.

“Lus kau enggak perawan yach,” tanyaku.

“Iya Ben, dahulu waktu lagi masturbasi nyodoknya kedaleman jadinya pecah dech,” jelasnya.

“Ben ingat loh, jangan bilang siapa-siapa, ini rahasia kita aja.””Oh hening aja saya dapat diandalkan kok, asal lain kali kau berkeinginan lagi.”

“Siapa sih yang dapat nolak ‘Beni Junior’,” katanya mesra.

Aku ketika itu setidaknya seminggu sekali saya senantiasa melaksanakan ML dengan Lusi, sesekali saya yang memang sedang berharap atau sesekali juga Lusi yang sering kali ketagihan, yang asyik hingga ketika ini kami senantiasa bermain di rumah tanpa ada seorang malahan yang tahu, kadang tengah malam saya ke kamar Lusi atau sebaliknya, kadang juga ketika siang pulang sekolah jikalau tak ada orang di rumah.

Terbukti ini kelihatannya Lusi lagi berharap, semenjak di sekolah dia terus menggodaku, pun dia sempat membisikkan keinginannya untuk ML siang ini di rumah, namun malangnya siang ini ayah dan ibu sedang ada di rumah sehingga kami tidak jadi melaksanakan ini. Jika menjanjikan nanti malam akan main ke kamarnya, dan dia mengiyakan saja, katanya asal dapat ML denganku hari ini dia berdasarkan saja kemauanku.

Aku hingga malan ayahku belum tidur juga, kelihatannya sedang asyik menonton perlombaan bola di Aku, dan saya malahan tidur-tiduran sambil menunggu ayahku tertidur, namun malang pun saya yang tertidur duluan. Dalam mimpiku, saya sedang dikelitiki sesuatu dan berupaya saya bendung, namun kemudian sesuatu menindihku tetapi saya sesak aku dan kemudian terbangun.

“Lusi! apa Ayah telah tidur?” tanyaku memperhatikan rupanya Lusi yang menindihiku dengan terbukti telanjang.

“kau mulai badung Ben, dari tadi saya tunggu kau, kau tak datang-datang juga. kau tau, kini telah jam dua, dan ayah sudah tidur semenjak jam satu tadi,” katanya mesra sambil sejak penisku sebab rupanya celana pendekku dan CD-ku sudah dibukanya.

“Yang badung tuh kau, Bukannya permisi atau bangunin saya kek,” kataku.

“kau tak sadar yach, kau kan udah bangun, tuh liat udah siap kok,” katanya sambil kau penisku.

“Jika emut yach.”

Emutanya kali ini terasa berbeda, terasa aku menghisap dan kelaparan.

“Lus jangan cepet-cepet dong, kasian ‘Beni Junior’ dong!”

“Jika udah kepengen berat Ben!” katanya lagi.

“Mending seperti aku, kita pake posisi ’69′ dan kita sama-sama lazim,” kataku sembil berputar tanpa melepaskan emutannya kemudian sambil terus diemut.

Jika mulai menjilat-jilat vaginanya yang sudah berair sambil tanganku memencet-mencet payudaranya yang kian keras, terus kuhisap vaginanya dan mulai kumasukkan lidahku untuk mencari-cari klitorisnya.

“Aach.. achh..” desahnya kian kutemukan klitorisnya.\\”

“Ben! kau pinter banget nemuin itilku, a.. achh.. ahh..”

“kau juga makin pinter ngulum ‘Beni’ kecil,” kataku lagi.

“Ben, kali ini kita tak usah banyak-banyak yach, aa.. achh..” katanya sambil mendesah.

“Sekali saja ya tembaknya, hmm…,” katanya sembari merasakan jilalatanku di vaginanya.

“Melihat Ben saya.. ma.. u.. keluar nich! hhmmm… aghhh…” katanya sembari vaginannya mengeluarkan cairan.

“Kayaknya kau kau dua kali dech!” kataku sambil wajib posisi.

“Ya udah dech, namun kini kau masukin yach,” katanya lagi.

“Bersiaplah akan saya masukkan ini kini,” kataku sambil kini penisku ke vaginanya.

“Siap-siap yach!”

“Ayo dech,” katanya.

“Ach.. a.. ahh..” desahnya kian kumasukkan penisku.

“Bendung-perlahan dong!”

“Inikan udah perlahan Lus,” kataku sambil mulai bergoyang.

“Lus, kau udah terstimulasi lagi belon?” tanyaku.

“Sabar Ben…,” katanya sembari menggoyangkan pinggulnya untuk berirama denganku dan memintaku menciumnya.

“Sambil menciumnya dong Ben!”

Tanpa bercinta dua kali saya segera mncumbunya, dan saya betul-betul merasakan permainan lidahnya yang kian kian.

“Lus kau udah punya pacar belom?” tanyaku.

“Kalau sudah ada, mending putus saja,” kataku.

“Ben, pacarku mah gak ngerti soal sex,” jawabnya.

“Ach yang bener?” tanyaku lagi sambil mempercepat goyangan.

“Iya.. Bener.. hmm.. kok… Ben… Ahh…,’ katanya sambil mendesah.

“Aku aja, atau kau berkeinginan udahan?” kataku mau.

“Jangan udahan dong, saya baru kau bikin terstimulasi lagi, kan kagak lazim jikalau udahan, achh.. aa.. ahh.. saya percepat yach Ben,” katanya.

Kemudian mempercepat gerakan pinggulnya.

“Jika udah ngerti gimana enaknya, bentar lagi kayaknya saya bakal keluar dech,” kataku menyadari bahwa sepermaku telah mengumpul di ujung.

“Achh.. ach.. bentar lagi nih.”

“Ok Ben!” katanya dengan langsung keluarkan kontolku dari vaginanya dan mengisapnya dengan mulutnya sambil mainkan klitorisnya.

“Jika juga Ben, aku saya cari klitorisku dong!” katanya menarik tanganku ke vaginanya.

Sembari mengisap kontolku, Lus memintaku memainkan klitorisnya dan saya menuruti permintaanya. Agen Domino 99

“Achh…. achhh… achhhh…” desahku sembari memenuhi mulut Lus dengan spermaku

“Jika juga Ben..” katanya sambil menjepit tanganku dalam vaginanya.

“Ach.. ah.. aa.. ach..” desahnya.

“Jika tidur di sini yach, nanti bangunin saya jam lima sebelum ayah bagun,” katanya sambil menutup mata dan kemudian tertidur, di sampingku.

Kamu jam lima pagi saya bangun dan membangunkanya, kemudian dia bergegas ke kamar madi dan mempersiapkan diri untuk sekolah, aku juga dengan saya. Yang aneh siang ini tak seperti tak Lusi tak pulang bersamaku sebab dia ada les privat, meskipun di rumah hanya ada Mbak Riri, dan anehnya siang-siang hanya Mbak Riri di rumah semacam ini menggunakan ketat dan rok mini seperti sedang menunggu sesuatu.

“Siang Ben! baru pulang? Lusi mana?” tanyanya.

“Lusi lagi les, katanya bakal pulang kaos,” kataku, “Loh Mbak sendiri kapan pulang? katanya dari Solo yach?”

“Jika pulang tadi malem jam tigaan,” katanya.

“Ben, tadi malam kau teriak sendirian di kamar ada apa?” tanya Mbak Riri. Saya langsung berkeringat, Waduh, semalam Mbak Riri kayaknya dengar desahan Lusi/

“Ach tak kok, hanya ngigo,” kataku sambil berlalu ke kamar.

“Ben! Temeninku nonton VCD ya, biar sik,” katanya dari kamarnya.

“Bentar!” kataku sembari jalan ke tempatnya, “Mana Film yang mau ditonton Mbak? tanyaku saat sudah sampai dikamarnya.

“Liat aja, nanti juga tau,” katanya lagi.

“Mbak lagi nungguin seseorang yach?” tanyaku.

“Mbak, lagi nungguin kau kok,” katanya datar, “Tuh liat filmnya udah mulai.”

“Loh inikan..?” kataku memperhatikan film BF yang diputarnya dan tanpa meneruskan kata-kataku sebab memperhatikan dia mendekatiku. Kemudian dia mulai mengecup bibirku.

“Mbak tau kok yang semalam,” katanya, “Jika berkeinginan enggak ngelayanin saya, saya lebih pengalaman dech dari Lusi.” Wah pergi satu datang lagi satu, sungguh luar biasa.

“Mbak, saya kan adik yang berbakti, masak nolak sich,” godaku sambil tangan kananku mulai masuk ke dalam rok mininya menggosok-gosok vaginanya, meskipun tangan kiriku masuk ke kausnya dan memencet-mencet payudaranya yang super besar.

“Jika pinter dech, namun sayang kau badung, pinter cari bandel,” katanya menghentikan kesempatan dan melepaskan tanganku dari dada dan vaginanya.

“Mbak berkeinginan ngapain, kan lagi asyik?” tanyaku.

“Gak sabar lagi ya? pakaianku kubuka dulu terus kamu nyusul ya,” kata Mbak Riri.

Jika juga tidak berkeinginan mau, saya mulai membuka bajuku hingga pada hasilnya kami berdua telanjang bulat.

“Tubuh Mbak hasilnya banget,” kataku melihat tubuhnya dari atas hingga ujung kaki, benar-benar tak ada cacat, putih mulus dan sekal.

Tidak segera mencumbuku dan tangan kanannya sejak penisku, dan kini ke vaginanya sambil berdiri.

“Jika udah enggak bendung Ben,” katanya.

Kupegang kontolku dengan tangan kananku sementara tangan kiriku memainkan vaginannya.

“Nanti dahulu ach, beginikan lebih asik.”

“Ach.. kau badung Ben! pantes si Lusi berkeinginan,” katanya mesra.

“Ben..! Mbak..! lagi dimana kalian?” terdengar bunyi Lusi memanggil dari luar.

“Hari ini guru lesnya tak masuk jadi saya dipulangin, kalian lagi dimana sich?” tanyanya sekali lagi.

“Kita lagi pesta nih Lus, masuk saja,” jawab Mbak Riri.

“Mbak! Entar jikalau Lusi tau gimana?” tanyaku.

“Jangan panggilku Mbak lagi Ben, panggil saja Riri,” jawabnya dan saat itulah saya lihat Lusi tiba-tiba melepaskan pakaiannya setelah masuk ke kamar.

“Rir, saya aku yach!” pinta Lusi sambil memainkan vaginanya.

“Ben kau kuat nggak?” tanya Riri.

“Kamu aja saya kuat kok, lagian kasian tuch Lusi udah terstimulasi,” kataku.

“Lus cepet sinih emut ‘Ben Junior’,” ajakku.

Tanpa menolak Lusi segera datang mengemut penisku.

“Mending kita tiduran, biar saya dapet vaginamu,” kataku pada Riri.

“Ayo dech!” katanya kemudian mengambil posisi. Riri meletakkan vaginanya di atas kepalaku, dan kepalanya menghadap Miss V Lusi yang sedang mengemut penisku.

“Lus, saya maenin vaginamu,” katanya.

Tanpa menunggu jawaban dari Lusi dia segera bermain di vaginanya.Permainan ini berlangsung lama hingga hasilnya Riri menegangkan pahanya, dan.. “Ach.. a.. aach.. saya keluar..” katanya sambil menyemprotkan cairan di vaginanya.

“Aku ganti Lusi yach,” kataku. Kemudian saya bangun dan kini penisku ke vaginanya dan masuk pelan-lahan.

“Ach.. aach..” desah Lusi.

“Jika curang, Lusi kau masukin, kok saya tak?” katanya.

“Abis kau keluar duluan, namun hening aja, nanti abis Lusi keluar kau saya masukin, yang penting kau kau dirimu sendiri,” kataku.

“Yang cepet dong goyangnya!” keluh Lusi. Kupercepat goyanganku, dan ia mengimbanginya juga.

“Kak, ach.. entar lagi gant.. a.. ach.. gantian yach, saya.. berkeinginan keluar ach.. aa.. a.. ach..!” desahnya, kemudian lemas dan tertidur tidak berdaya.

“Ayo Ben tunggu apa lagi!” kata Riri yang sudah mengangkang dan menungguku menjebolkannya.

“Jika udah terstimulasi lagi.” Tanpa menunggu lama saya segera mencoblosnya dan mencumbunya.

“Gimana lazim penisku ini?” tanyaku.

“Penis kau kepanjangan,” katanya, “namun lazim!”.

“Kayaknya kamu nggak lama lagi dech,” kataku.

“Saya juga sudah gak tahan lagi. Kita bareng-bareng keluarin ya,” katanya.

“Di luar apa di dalem?” tanyaku lagi.

“Aahhh… ahhh… dalem aja… hmm…” katanya sambil mendesah.

“Jika.. keluar.. ach.. achh.. ahh..tembakk.. dalem…” desahku sambil menembakkan spermaku.

“Ahh… Ahhh… saya juga… hmmm…” katanya sambil tegang dan mengeluarkan cairan dari vaginanya.

Jika kami bertiga tertidur di lantai dan kami bangun pada ketika saat.

“Ben saya mandi dahulu yach, udah kaos nich.”

“Jika juga ach,” kataku.

“Ben, Lus, lain kali lagi yach,” pinta Riri.

“Dapat bisa, asal lagi kosong kayak gini, ya nggak Ben!” kata Lusi.

“Kapan aja kalian berkeinginan saya siap,” kataku.

“Tetapi gitu kalian jangan mandi dahulu, kita main lagi yuk!” kata Riri mulai sejak penisku.

Jika kami main lagi hingga malam dan kebetulan ayah dan ibu telepon dan mengatakan bahwa mereka pulangnya hingga pagi, jadi kami lebih bebas bermain, lagi dan lagi. Kemudian hari selanjutya kami sering kali bermain ketika saat seperti ini, kadang tengah malam cuma dengan Riri atau cuma Lusi. Oh bapak tiri, rupanya kecuali harta banyak, kau juga punya dua buah hati yang siap menemaniku kapan saja, ohh nikmatnya hidup ini.

Cerita Sex Pengalaman Tak Terlupakan Dengan Tante Ninik

Cerita Sex Pengalaman Tak Terlupakan Dengan Tante Ninik – “Kriing..” jam di meja memaksa aku untuk memicingkan mata.
“Wah gawat, telat nih” dengan tergesa-gesa aku bangun lalu lari ke kamar mandi.

Pagi itu aku ada janji untuk menjaga rumah tanteku. Oh ya, tanteku ini orangnya cantik dengan wajah seperti artis sinetron, namanya Ninik. Tinggi badan 168, payudara 34, dan tubuh yang langsing. Sejak kembali dari Malang, aku sering main ke rumahnya. Hal ini aku lakukan atas permintaan tante Ninik, karena suaminya sering ditugaskan ke luar pulau.Agen Domino 99

Oh ya, tante Ninik mempunyai dua anak perempuan Dini dan Fifi. Dini sudah kelas 2 SMA dengan tubuh yang langsing, payudara 36B, dan tinggi 165. Sedangkan Fifi mempunyai tubuh agak bongsor untuk gadis SMP kelas 3, tinggi 168 dan payudara 36. Setiap aku berada di rumah tante Fifi aku merasa seperti berada di sebuah harem. Tiga wanita cantik dan seksi yang suka memakai baju-baju transparan kalau di rumah. Kali ini aku akan ceritakan pengalamanku dengan tante Ninik di kamarnya ketika suaminya sedang tugas dinas luar pulau untuk 5 hari.
Hari Senin pagi, aku memacu motorku ke rumah tante Ninik. Setelah perjalanan 15 menit, aku sampai di rumahnya. Langsung aku parkir motor di teras rumah. Sepertinya Dini dan Fifi masih belum berangkat sekolah, begitu juga tante Ninik belum berangkat kerja.

“Met pagi semua” aku ucapkan sapaan seperti biasanya.
“Pagi, Mas Firman. Lho kok masih kusut wajahnya, pasti baru bangun ya?” Fifi membalas sapaanku.
“Iya nih kesiangan” aku jawab sekenanya sambil masuk ke ruang keluarga.
“Fir, kamu antar Dini dan Fifi ke sekolah ya. Tante belum mandi nih. Kunci mobil ada di tempat biasanya tuh.” Dari dapur tante menyuruh aku.
“OK Tante” jawabku singkat.
“Ayo duo cewek paling manja sedunia.” celetukku sambil masuk ke mobil. Iya lho, Dini dan Fifi memang cewek yang manja, kalau pergi selalu minta diantar.
“Daag Mas Firman, nanti pulangnya dijemput ya.” Lalu Dini menghilang dibalik pagar sekolahan.
Selesai sudah tugasku mengantar untuk hari ini. Kupacu mobil ke rumah tante Ninik.

Cerita Sex Pengalaman Tak Terlupakan Dengan Tante Ninik

Setelah parkir mobil aku langsung menuju meja makan, lalu mengambil porsi tukang dan melahapnya. Tante Ninik masih mandi, terdengar suara guyuran air agak keras. Lalu hening agak lama, setelah lebih kurang lima menit tidak terdengar gemericik air aku mulai curiga dan aku hentikan makanku. Setelah menaruh piring di dapur. Aku menuju ke pintu kamar mandi, sasaranku adalah lubang kunci yang memang sudah tidak ada kuncinya. Aku matikan lampu ruang tempatku berdiri, lalu aku mulai mendekatkan mataku ke lubang kunci. Di depanku terpampang pemandangan alam yang indah sekali, tubuh mulus dan putih tante Ninik tanpa ada sehelai benang yang menutupi terlihat agak mengkilat akibat efek cahaya yang mengenai air di kulitnya. Ternyata tante Ninik sedang masturbasi, tangan kanannya dengan lembut digosok-gosokkan ke vaginanya. Sedangkan tangan kiri mengelus-elus payudaranya bergantian kiri dan kanan.

Terdengar suara desahan lirih, “Hmm, ohh, arhh”.

Cerita Sex Pengalaman Tak Terlupakan Dengan Tante Ninik

Kulihat tanteku melentingkan tubuhnya ke belakang, sambil tangan kanannya semakin kencang ditancapkan ke vagina. Rupanya tante Ninik ini sudah mencapai orgasmenya. Lalu dia berbalik dan mengguyurkan air ke tubuhnya. Aku langsung pergi ke ruang keluarga dan menyalakan televisi. Aku tepis pikiran-pikiran porno di otakku, tapi tidak bisa. Tubuh molek tante Ninik, membuatku tergila-gila. Aku jadi membayangkan tante Ninik berhubungan badan denganku.

“Lho Fir, kamu lagi apa tuh kok tanganmu dimasukkan celana gitu. Hayo kamu lagi ngebayangin siapa? Nanti aku bilang ke ibu kamu lho.” Tiba-tiba suara tante Ninik mengagetkan aku.
“Kamu ini pagi-pagi sudah begitu. Mbok ya nanti malam saja, kan enak ada lawannya.” Celetuk tante Ninik sambil masuk kamar. Agen Domino 99

Aku agak kaget juga dia ngomong seperti itu. Tapi aku menganggap itu cuma sekedar guyonan. Setelah tante Ninik berangkat kerja, aku sendirian di rumahnya yang sepi ini. Karena masih ngantuk aku ganti celanaku dengan sarung lalu masuk kamar tante dan langsung tidur.

“Hmm.. geli ah” Aku terbangun dan terkejut, karena tante Ninik sudah berbaring di sebelahku sambil tangannya memegang Mr. P dari luar sarung.
“Waduh, maafin tante ya. Tante bikin kamu terbangun.” Kata tante sambil dengan pelan melepaskan pegangannya yang telah membuat Mr. P menegang 90%.
“Tante minta ijin ke atasan untuk tidak masuk hari ini dan besok, dengan alasan sakit. Setelah ambil obat dari apotik, tante pulang.” Begitu alasan tante ketika aku tanya kenapa dia tidak masuk kerja.
“Waktu tante masuk kamar, tante lihat kamu lagi tidur di kasur tante, dan sarung kamu tersingkap sehingga celana dalam kamu terlihat. Tante jadi terangsang dan pingin pegang punya kamu. Hmm, gedhe juga ya Mr. P mu” Tante terus saja nyerocos untuk menjelaskan kelakuannya.
“Sudahlah tante, gak pa pa kok. Lagian Firman tahu kok kalau tante tadi pagi masturbasi di kamar mandi” celetukku sekenanya.
“Lho, jadi kamu..” Tante kaget dengan mimik setengah marah.
“Iya, tadi Firman ngintip tante mandi. Maaf ya. Tante gak marah kan?” agak takut juga aku kalau dia marah.

Tante diam saja dan suasana jadi hening selama lebih kurang 10 menit. Sepertinya ada gejolak di hati tante. Lalu tante bangkit dan membuka lemari pakaian, dengan tiba-tiba dia melepas blaser dan mengurai rambutnya. Diikuti dengan lepasnya baju tipis putih, sehingga sekarang terpampang tubuh tante yang toples sedang membelakangiku. Aku tetap terpaku di tempat tidur, sambil memegang tonjolan Mr. P di sarungku. Bra warna hitam juga terlepas, lalu tante berbalik menghadap aku. Aku jadi salah tingkah.

“Aku tahu kamu sudah lama pingin menyentuh ini..” dengan lembut tante berkata sambil memegang kedua bukit kembarnya.
“Emm.., nggak kok tante. Maafin Firman ya.” Aku semakin salah tingkah.
“Lho kok jadi munafik gitu, sejak kapan?” tanya tanteku dengan mimik keheranan.
“Maksud Firman, nggak salahkan kalau Firman pingin pegang ini..!” Sambil aku tarik bahu tante ke tempat tidur, sehingga tante terjatuh di atas tubuhku.

Langsung aku kecup payudaranya bergantian kiri dan kanan.

Cerita Sex Pengalaman Tak Terlupakan Dengan Tante Ninik

“Eh, nakal juga kamu ya.. ihh geli Fir.” tante Ninik merengek perlahan.
“Hmm..shh” tante semakin keras mendesah ketika tanganku mulai meraba kakinya dari lutut menuju ke selangkangannya.

Rok yang menjadi penghalang, dengan cepatnya aku buka dan sekarang tinggal CD yang menutupi gundukan lembab. Sekarang posisi kami berbalik, aku berada di atas tubuh tante Ninik. Tangan kiriku semakin berani meraba gundukan yang aku rasakan semakin lembab. Ciuman tetap kami lakukan dibarengi dengan rabaan di setiap cm bagian tubuh. Sampai akhirnya tangan tante masuk ke sela-sela celana dan berhenti di tonjolan yang keras.

“Hmm, boleh juga nih. Sepertinya lebih besar dari punyanya om kamu deh.” tante mengagumi Mr. P yang belum pernah dilihatnya.
“Ya sudah dibuka saja tante.” pintaku.

Lalu tante melepas celanaku, dan ketika tinggal CD yang menempel, tante terbelalak dan tersenyum.

“Wah, rupanya tante punya Mr. P lain yang lebih gedhe.” Gila tante Ninik ini, padahal Mr. P-ku belum besar maksimal karena terhalang CD.

Aksi meremas dan menjilat terus kami lakukan sampai akhirnya tanpa aku sadari, ada hembusan nafas diselangkanganku. Dan aktifitas tante terhenti. Rupanya dia sudah berhasil melepas CD ku, dan sekarang sedang terperangah melihat Mr. P yang berdiri dengan bebas dan menunjukkan ukuran sebenarnya. Agen Domino 99

“Tante.. ngapain berhenti?” aku beranikan diri bertanya ke tante, dan rupanya ini mengagetkannya.
“Eh.. anu.. ini lho, punya kamu kok bisa segitu ya..?” agak tergagap juga tante merespon pertanyaanku.
“Gak panjang banget, tapi gemuknya itu lho.. bikin tante merinding” sambil tersenyum dia ngoceh lagi.

Tante masih terkesima dengan Mr. P-ku yang mempunyai panjang 14 cm dengan diameter 4 cm.

“Emangnya punya om gak segini? ya sudah tante boleh ngelakuin apa aja sama Mr. P ku.” Aku ingin agar tante memulai ini secepatnya.
“Hmm, iya deh.” Lalu tante mulai menjilat ujung Mr. P.

Ada sensasi enak dan nikmat ketika lidah tante mulai beraksi naik turun dari ujung sampai pangkal Mr. P

“Ahh.. enak tante, terusin hh.” aku mulai meracau.

Lalu aku tarik kepala tante Ninik sampai sejajar dengan kepalaku, kami berciuman lagi dengan ganasnya. Lebih ganas dari ciuman yang pertama tadi. Tanganku beraksi lagi, kali ini berusaha untuk melepas CD tante Ninik. Akhirnya sambil menggigit-gigit kecil puting susunya, aku berhasil melepas penutup satu-satunya itu. Tiba-tiba, tante merubah posisi dengan duduk di atas dadaku. Sehingga terpampang jelas vaginanya yang tertutup rapat dengan rambut yang dipotong rapi berbentuk segitiga.

Cerita Sex Pengalaman Tak Terlupakan Dengan Tante Ninik

“Ayo Fir, gantian kamu boleh melakukan apa saja terhadap ini.” Sambil tangan tante mengusap vaginanya.
“OK tante” aku langsung mengiyakan dan mulai mengecup vagina tante yang bersih.
“Shh.. ohh” tante mulai melenguh pelan ketika aku sentuh klitorisnya dengan ujung lidahku.
“Hh.. mm.. enak Fir, terus Fir.. yaa.. shh” tante mulai berbicara tidak teratur.

Semakin dalam lidahku menelusuri liang vagina tante. Semakain kacau pula omongan tante Ninik. “Ahh..Fir..shh..Firr aku mau keluar.” tante mengerang dengan keras.

“Ahh..” erangan tante keras sekali, sambil tubuhnya dilentingkan ke kebelakang.

Rupanya tante sudah mencapai puncak. Aku terus menghisap dengan kuat vaginanya, dan tante masih berkutat dengan perasaan enaknya.

“Hmm..kamu pintar Fir. Gak rugi tante punya keponakan seperti kamu. Kamu bisa jadi pemuas tante nih, kalau om kamu lagi luar kota. Mau kan?” dengan manja tante memeluk tubuhku.
“Ehh, gimana ya tante..” aku ngomgong sambil melirik ke Mr. P ku sendiri.
“Oh iya, tante sampai lupa. Maaf ya” tante sadar kalau Mr. P ku masih berdiri tegak dan belum puas.

Dipegangnya Mr. P ku sambil bibirnya mengecup dada dan perutku. Lalu dengan lembut tante mulai mengocok Mr. P. Setelah lebih kurang 15 menit tante berhenti mengocok.

“Fir, kok kamu belum keluar juga. Wah selain besar ternyata kuat juga ya.” tante heran karena belum ada tanda-tanda mau keluar sesuatu dari Mr.Pku.

Tante bergeser dan terlentang dengan kaki dijuntaikan ke lantai. Aku tanggap dengan bahasa tubuh tante Ninik, lalu turun dari tempat tidur. Aku jilati kedua sisi dalam pahanya yang putih mulus. Bergantian kiri-kanan, sampai akhirnya dipangkal paha. Dengan tiba-tiba aku benamkan kepalaku di vaginanya dan mulai menyedot. Tante menggelinjang tidak teratur, kepalanya bergerak ke kiri dan kanan menahan rasa nikmat yang aku berikan. Setelah vagina tante basah, tante melebarkan kedua pahanya. Aku berdiri sambil memegang kedua pahanya. Aku gesek-gesekkan ujung Mr. P ke vaginanya dari atas ke bawah dengan pelan. PErlakuanku ini membuat tante semakin bergerak dan meracau tidak karuan.

“Tante siap ya, aku mau masukin Mr. P” aku memberi peringatan ke tante.
“Cepetan Fir, ayo.. tante sudah gak tahan nih.” tante langsung memohon agar aku secepatnya memasukkan Mr. P.

Dengan pelan aku dorong Mr. P ke arah dalam vagina tante Ninik, ujung kepalaku mulai dijepit bibir vaginanya. Lalu perlahan aku dorong lagi hingga separuh Mr. P sekarang sudah tertancap di vaginanya. Aku hentikan aktifitasku ini untuk menikmati moment yang sangat enak. Pembaca cobalah lakukan ini dan rasakan sensasinya. Pasti Anda dan pasangan akan merasakan sebuah kenikmatan yang baru.

“Fir, kok rasanya nikmat banget.. kamu pintar ahh.. shh” tante berbicara sambil merasa keenakan.
“Ahh.. shh mm, tante ini cara Firman agar tante juga merasa enak” Aku membalas omongan tante.

Lalu dengan hentakan lembut aku mendorong semua sisa Mr. P ke dalam vagina tante.

“Ahh..” kami berdua melenguh.

Kubiarkan sebentar tanpa ada gerakan, tetapi tante rupanya sudah tidak tahan. Perlahan dan semakin kencang dia menggoyangkan pinggul dan pantatnya dengan gerakan memutar. Aku juga mengimbanginya dengan sodokan ke depan. Vagina tante Ninik ini masih kencang, pada saat aku menarik Mr. P bibir vaginanya ikut tertarik.

“Plok.. plok.. plokk” suara benturan pahaku dengan paha tante Ninik semakin menambah rangsangan. Agen Domino 99
Sepuluh menit lebih kami melakukan gaya tersebut, lalu tiba-tiba tante mengerang keras “Ahh.. Fir tante nyampai lagi”

Cerita Sex Pengalaman Tak Terlupakan Dengan Tante Ninik

Pinggulnya dirapatkan ke pahaku, kali ini tubuhnya bergerak ke depan dan merangkul tubuhku. Aku kecup kedua payudaranya. dengan Mr. P masih menancap dan dijepit Vagina yang berkedut dengan keras. Dengan posisi memangku tante Ninik, kami melanjutkan aksi. Lima belas menit kemudian aku mulai merasakan ada desakan panas di Mr. P.

“Tante, aku mau keluar nih, di mana?” aku bertanya ke tante.
“Di dalam aja Fir, tante juga mau lagi nih” sahut tante sambil tubuhnya digerakkan naik turun.

Urutan vaginanya yang rapat dan ciuman-ciumannya akhirnya pertahananku mulai bobol.

“Arghh.. tante aku nyampai”.
“Aku juga Fir.. ahh” tante juga meracau.

Aku terus semprotkan cairan hangat ke vagina tante. setelah delapan semprotan tante dan aku bergulingan di kasur. Sambil berpelukan kami berciuman dengan mesra.

“Fir, kamu hebat.” puji tante Ninik.
“Tante juga, vagina tante rapet sekali” aku balas memujinya.
“Fir, kamu mau kan nemani tante selama om pergi” pinta tante.
“Mau tante, tapi apa tante gak takut hamil lagi kalau aku selalu keluarkan di dalam?” aku balik bertanya.
“Gak apa-apa Fir, tante masih ikut KB. Jangan kuatir ya sayang” Tante membalas sambil tangannya mengelus dadaku.

Akhirnya kami berpagutan sekali lagi dan berpelukan erat sekali. Rasanya seperti tidak mau melepas perasaan nikmat yang barusan kami raih. Lalu kami mandi bersama, dan sempat melakukannya sekali lagi di kamar mandi.

Cerita Sex Adik Tiriku Menjadi Budak Seks Ku

Cerita Sex Adik Tiriku Menjadi Budak Seks Ku. Cerita Sex ini dimulai waktu aku SMA kelas 3, waktu itu aku baru sebulan tinggal sama ayah tiriku. Ibu menikah dengan orang ini karena karena tidak tahan hidup menjanda lama-lama. Yang aku tidak sangka-sangka ternyata ayah tiriku punya 2 anak cewek yang keren dan seksi habis, yang satu sekolahnya sama denganku, namanya Citra dan yang satunya lagi sudah kuliah, namanya Ratna.

Si Citra cocok sekali kalau dijadikan bintang iklan obat pembentuk tubuh, nah kalau si Ratna paling cocok untuk iklan BH sama suplemen payudara. Sejak pertama aku tinggal, aku selalu berangan-angan bahwa dapat memiliki mereka, tapi angan-angan itu selalu buyar oleh berbagai hal. Dan siang ini kebetulan tidak ada orang di rumah selain aku dengan Citra, ini juga aku sedang kecapaian karena baru pulang sekolah. “Citra! entar kalau ada perlu sama aku, aku ada di kamar,” teriakku dari kamar.

Aku mulai menyalakan komputerku dan karena aku sedang suntuk, aku mulai dech surfing ke situs-situs porno kesayanganku, tapi enggak lama kemudian Citra masuk ke kamar sambil bawa buku, kelihatannya dia mau tanya pelajaran. “Ben, kemaren kamu udah nyatet Biologi belom, aku pinjem dong!” katanya dengan suara manja. Tanpa memperdulikan komputerku yang sedang memutar film BF via internet, aku mengambilkan dia buku di rak bukuku yang jaraknya lumayan jauh dengan komputerku.Agen Domino 99

“Citra..! nich bukunya, kemarenan aku udah nyatet,” kataku.

Citra tidak memperhatikanku tapi malah memperhatikan film BF yang sedang di komputerku.

“Citra.. kamu bengong aja!” kataku pura-pura tidak tahu.

“Eh.. iya, Ben kamu nyetel apa tuh! aku bilangin bonyok loh!” kata Citra.

“Eeh.. kamu barusan kan juga liat, aku tau kamu suka juga kan,” balas aku.

“Mending kita nonton sama-sama, tenang aja aku tutup mulut kok,” ajakku berusaha mencari peluang.

“Bener nich, kamu kagak bilang?” katanya ragu.

“Suwer dech!” kataku sambil mengambilkan dia kursi.

Citra mulai serius menonton tiap adegan, sedangkan aku serius untuk terus menatap tubuhnya.

“Citra, sebelum ini kamu pernah nonton bokep kagak?” tanyaku.

“Pernah, noh aku punya VCD-nya,” jawabnya.

Wah gila juga nich cewek, diam-diam nakal juga.

“Kalau ML?” tanyaku lagi.

“Belom,” katanya, “Tapi.. kalo sendiri sich sering.”

Wah makin berani saja aku, yang ada dalam pikiranku sekarang cuma ML sama dia. Bagaimana caranya si “Beni Junior” bisa puas, tidak peduli saudara tiri, yang penting nafsuku hilang. Melihat dadanya yang naik-turun karena terangsang, aku jadi semakin terangsang, dan batang kemaluanku pun makin tambah tegang.

“Citra, kamu terangsang yach, ampe napsu gitu nontonnya,” tanyaku memancing.

“Iya nic Ben, bentar yach aku ke kamar mandi dulu,” katanya.

“Eh.. ngapain ke kamar mandi, nih liat!” kataku menunjuk ke arah celanaku.

“Kasihanilah si Beni kecil,” kataku.

“Pikiran kamu jangan yang tidak-tidak dech,” katanya sambil meninggalkan kamarku.

“Tenang aja, rumah kan lagi sepi, aku tutup mulut dech,” kataku memancing.

Cerita Sex Adik Tiriku Menjadi Budak Seks Ku

Dan ternyata tidak ia gubris, bahkan terus berjalan ke kamar mandi sambil tangan kanannya meremas-remas buah dadanya dan tangan kirinya menggosok-gosok kemaluannya, dan hal inilah yang membuatku tidak menyerah. Kukejar terus dia, dan sesaat sebelum masuk kamar mandi, kutarik tangannya, kupegang kepalanya lalu kemudian langsung kucium bibirnya. Sesaat ia menolak tapi kemudian ia pasrah, bahkan menikmati setiap permainan lidahku. Agen Domino 99

“Kau akan aku berikan pengalaman yang paling memuaskan,” kataku, kemudian kembali melanjutkan menciumnya. Tangannya membuka baju sekolah yang masih kami kenakan dan juga ia membuka BH-nya dan meletakkan tanganku di atas dadanya, kekenyalan dadanya sangat berbeda dengan gadis lain yang pernah kusentuh. Perlahan ia membuka roknya, celanaku dan celana dalamnya. “Kita ke dalam kamar yuk!” ajaknya setelah kami berdua sama-sama bugil, “Terserah kaulah,” kataku,

Yang penting kau akan kupuaskan.” Tak kusangka ia berani menarik penisku sambil berciuman, dan perlahan-lahan kami berjalan menuju kamarnya. “Ben, kamu tiduran dech, kita pake ’69′ mau tidak?” katanya sambil mendorongku ke kasurnya. Ia mulai menindihku, didekatkan vaginanya ke mukaku sementara penisku diemutnya, aku mulai mencium-cium vaginanya yang sudah basah itu, dan aroma kewanitaannya membuatku semakin bersemangat untuk langsung memainkan klitorisnya.

Tak lama setelah kumasukkan lidahku, kutemukan klitorisnya lalu aku menghisap, menjilat dan kadang kumainkan dengan lidahku, sementara tanganku bermain di dadanya. Tak lama kemudian ia melepaskan emutannya. “Jangan hentikan Ben.. Ach.. percepat Ben, aku mau keluar nich! ach.. ach.. aachh.. Ben.. aku ke.. luar,” katanya berbarengan dengan menyemprotnya cairan kental dari vaginanya. Dankemudian dia lemas dan tiduran di sebelahku.

Cerita Sex Adik Tiriku Menjadi Budak Seks Ku

“Citra, sekali lagi yah, aku belum keluar nich,” pintaku.

“Bentar dulu yach, aku lagi capek nich,” jelasnya.

Aku tidak peduli kata-katanya, kemudian aku mulai mendekati vaginanya.

“Citra, aku masukkin sekarang yach,” kataku sambil memasukkan penisku perlahan-lahan.

Kelihatannya Citra sedang tidak sadarkan diri, dia hanya terpejam coba untuk beristirahat. Vagina Citra masih sempit sekali, penisku dibuat cuma diam mematung di pintunya. Perlahan kubuka dengan tangan dan terus kucoba untuk memasukkannya, dan akhirnya berhasil penisku masuk setengahnya, kira-kira 7 cm.

“Jangan Ben.. entar aku hamil!” katanya tanpa berontak.

“Kamu udah mens belom?” tanyaku.

“Udah, baru kemaren, emang kenapa?” katanya.

Sambil aku masukkan penisku yang setengah, aku jawab pertanyaannya,

“Kalau gitu kamu kagak bakal hamil.”

“Ach.. ach.. ahh..! sakit Ben, a.. ach.. ahh, pelan-pelan, aa.. aach.. aachh..!” katanya berteriak nikmat.

“Tenang aja cuma sebentar kok, Citra mending doggy style dech!” kataku tanpa melepaskan penis dan berusaha memutar tubuhnya. Agen Domino 99

Ia menuruti kata-kataku, lalu mulai kukeluar-masukkan penisku dalam vaginanya dan kurasa ia pun mulai terangsang kembali, karena sekarang ia merespon gerakan keluar-masukku dengan menaik-turunkan pinggulnya.
“Ach.. a.. aa ach..” teriaknya.

“Sakit lagi Ben.. a.. aa.. ach..”

“Tahan aja, cuma sebentar kok,” kataku sambil terus bergoyang dan meremas-remas buah dadanya.

“Ben,. ach pengen.. ach.. a.. keluar lagi Ben..” katanya.

“Tunggu sebentar yach, aku juga pengen nich,” balasku.

“Cepetan Ben, enggak tahan nich,” katanya semakin menegang.

“A.. ach.. aachh..! yach kan keluar.”

Cerita Sex Adik Tiriku Menjadi Budak Seks Ku

“Aku juga Say..” kataku semakin kencang menggenjot dan akhirnya setidaknya enam tembakan spermaku di dalam vaginanya.

Kucabut penisku dan aku melihat seprei, apakah ada darahnya atau tidak? tapi tenyata tidak.

“Citra kamu enggak perawan yach,” tanyaku.

“Iya Ben, dulu waktu lagi masturbasi nyodoknya kedaleman jadinya pecah dech,” jelasnya.

“Ben ingat loh, jangan bilang siapa-siapa, ini rahasia kita aja.””Oh tenang aja aku bisa dipercaya kok, asal lain kali kamu mau lagi.”

“Siapa sih yang bisa nolak ‘Beni Junior’,” katanya mesra.

Setelah saat itu setidaknya seminggu sekali aku selalu melakukan ML dengan Citra, terkadang aku yang memang sedang ingin atau terkadang juga Citra yang sering ketagihan, yang asyik sampai saat ini kami selalu bermain di rumah tanpa ada seorang pun yang tahu, kadang tengah malam aku ke kamar Citra atau sebaliknya, kadang juga saat siang pulang sekolah kalau tidak ada orang di rumah.

Kali ini kelihatannya Citra lagi ingin, sejak di sekolah ia terus menggodaku, bahkan ia sempat membisikkan kemauannya untuk ML siang ini di rumah, tapi malangnya siang ini ayah dan ibu sedang ada di rumah sehingga kami tak jadi melakukan ini. Aku menjanjikan nanti malam akan main ke kamarnya, dan ia mengiyakan saja, katanya asal bisa ML denganku hari ini ia menurut saja kemauanku.

Ternyata sampai malan ayahku belum tidur juga, kelihatannya sedang asyik menonton pertandingan bola di TV, dan aku pun tidur-tiduran sambil menunggu ayahku tertidur, tapi malang malah aku yang tertidur duluan. Dalam mimpiku, aku sedang dikelitiki sesuatu dan berusaha aku tahan, tapi kemudian sesuatu menindihku hingga aku sesak napas dan kemudian terbangun.

“Citra! apa Ayah sudah tidur?” tanyaku melihat ternyata Citra yang menindihiku dengan keadaan telanjang.

“kamu mulai nakal Ben, dari tadi aku tunggu kamu, kamu tidak datang-datang juga. kamu tau, sekarang sudah jam dua, dan ayah telah tidur sejak jam satu tadi,” katanya mesra sambil memegang penisku karena ternyata celana pendekku dan CD-ku telah dibukanya.

“Yang nakal tuh kamu, Bukannya permisi atau bangunin aku kek,” kataku.

“kamu tidak sadar yach, kamu kan udah bangun, tuh liat udah siap kok,” katanya sambil memperlihatkan penisku. Agen Domino 99

“Aku emut yach.”

Emutanya kali ini terasa berbeda, terasa begitu menghisap dan kelaparan.

“Citra jangan cepet-cepet dong, kasian ‘Beni Junior’ dong!”

“Aku udah kepengen berat Ben!” katanya lagi.

“Mending seperti biasa, kita pake posisi ’69′ dan kita sama-sama enak,” kataku sembil berputar tanpa melepaskan emutannya kemudian sambil terus diemut.

Aku mulai menjilat-jilat vaginanya yang telah basah sambil tanganku memencet-mencet payudaranya yang semakin keras, terus kuhisap vaginanya dan mulai kumasukkan lidahku untuk mencari-cari klitorisnya.

“Aach.. achh..” desahnya ketika kutemukan klitorisnya.

“Ben! kamu pinter banget nemuin itilku, a.. achh.. ahh..”

“kamu juga makin pinter ngulum ‘Beni’ kecil,” kataku lagi.

“Ben, kali ini kita tidak usah banyak-banyak yach, aa.. achh..” katanya sambil mendesah.

“Cukup sekali aja nembaknya, taapi.. sa.. ma.. ss.. sa.. ma.. maa ac.. ach..” katanya sambil menikmati jilatanku.

“Tapi Ben aku.. ma.. u.. keluar nich! Ach.. a.. aahh..” katanya sambil menegang kemudian mengeluarkan cairan dari vaginanya.

“Kayaknya kamu harus dua kali dech!” kataku sambil merubah posisi.

“Ya udah dech, tapi sekarang kamu masukin yach,” katanya lagi.

“Bersiaplah akan aku masukkan ini sekarang,” kataku sambil mengarahkan penisku ke vaginanya.

“Siap-siap yach!”

“Ayo dech,” katanya.

“Ach.. a.. ahh..” desahnya ketika kumasukkan penisku.

“Pelan-pelan dong!”

“Inikan udah pelan Citra,” kataku sambil mulai bergoyang.

“Citra, kamu udah terangsang lagi belon?” tanyaku.

“Bentar lagi Ben,” katanya mulai menggoyangkan pantatnya untuk mengimbangiku, dan kemudian dia menarik kepalaku dan memitaku untuk sambil menciumnya.

“Sambil bercumbu dong Ben!”

Cerita Sex Adik Tiriku Menjadi Budak Seks Ku

Tanpa disuruh dua kali aku langsung mncumbunya, dan aku betul-betul menikmati permainan lidahnya yang semakin mahir.

“Citra kamu udah punya pacar belom?” tanyaku.”Aku udah tapi baru abis putus,” katanya sambil mendesah.

“Ben pacar aku itu enggak tau loh soal benginian, cuma kamu loh yang beginian sama aku.”

“Ach yang bener?” tanyaku lagi sambil mempercepat goyangan.

“Ach.. be.. ner.. kok Ben, a.. aa.. ach.. achh,” katanya terputus-putus.

“Tahan aja, atau kamu mau udahan?” kataku menggoda.

“Jangan udahan dong, aku baru kamu bikin terangsang lagi, kan kagak enak kalau udahan, achh.. aa.. ahh.. aku percepat yach Ben,” katanya.

Kemudian mempercepat gerakan pinggulnya.

“Kamu udah ngerti gimana enaknya, bentar lagi kayaknya aku bakal keluar dech,” kataku menyadari bahwa sepermaku sudah mengumpul di ujung.

“Achh.. ach.. bentar lagi nih.”

“Tahan Ben!” katanya sambil mengeluarkan penisku dari vaginanya dan kemudian menggulumnya sambil tanganya mamainkan klitorisnya.

“Aku juga Ben, bantu aku cari klitorisku dong!” katanya menarik tanganku ke vaginanya.

Sambil penisku terus dihisapnya kumainkan klitorisnya dengan tanganku dan..

“Achh.. a.. achh.. achh.. ahh..” desahku sambil menembakkan spermaku dalam mulutnya.

“Aku juga Ben..” katanya sambil menjepit tanganku dalam vaginanya.

“Ach.. ah.. aa.. ach..” desahnya.

“Aku tidur di sini yach, nanti bangunin aku jam lima sebelum ayah bagun,” katanya sambil menutup mata dan kemudian tertidur, di sampingku. Tepat jam lima pagi aku bangun dan membangunkanya, kemudian ia bergegas ke kamar madi dan mempersiapkan diri untuk sekolah, begitu juga dengan aku. Yang aneh siang ini tidak seperti biasanya Citra tidak pulang bersamaku karena ia ada les privat, sedangkan di rumah cuma ada Mbak Ratna, dan anehnya siang-siang begini Mbak Ratna di rumah memakai kaos ketat dan rok mini seperti sedang menunggu sesuatu. Agen Domino 99

“Siang Ben! baru pulang? Citra mana?” tanyanya.

“Citra lagi les, katanya bakal pulang sore,” kataku, “Loh Mbak sendiri kapan pulang? katanya dari Solo yach?”

“Aku pulang tadi malem jam tigaan,” katanya.

“Ben, tadi malam kamu teriak sendirian di kamar ada apa?”

Wah gawat sepertinya Mbak Ratna dengar desahannya Citra tadi malam.

“Ach tidak kok, cuma ngigo,” kataku sambil berlalu ke kamar.

“Ben!” panggilnya, “Temenin Mbak nonton VCD dong, Mbak males nich nonton sendirian,” katanya dari kamarnya.

“Bentar!” kataku sambil berjalan menuju kamarnya, “Ada film apa Mbak?” tanyaku sesampai di kamarnya.

Cerita Sex Adik Tiriku Menjadi Budak Seks Ku

“Liat aja, nanti juga tau,” katanya lagi.

“Mbak lagi nungguin seseorang yach?” tanyaku.

“Mbak, lagi nungguin kamu kok,” katanya datar, “Tuh liat filmnya udah mulai.”

“Loh inikan..?” kataku melihat film BF yang diputarnya dan tanpa meneruskan kata-kataku karena melihat ia mendekatiku. Kemudian ia mulai mencium bibirku.

“Mbak tau kok yang semalam,” katanya, “Kamu mau enggak ngelayanin aku, aku lebih pengalaman dech dari Citra.”

Wah pucuk di cinta ulam tiba, yang satu pergi datang yang lain.

“Mbak, aku kan adik yang berbakti, masak nolak sich,” godaku sambil tangan kananku mulai masuk ke dalam rok mininya menggosok-gosok vaginanya, sedangkan tangan kiriku masuk ke kausnya dan memencet-mencet payudaranya yang super besar.

“Kamu pinter dech, tapi sayang kamu nakal, pinter cari kesempatan,” katanya menghentikan ciumannya dan melepaskan tanganku dari dada dan vaginanya.

“Mbak mau ngapain, kan lagi asyik?” tanyaku.”Kamu kagak sabaran yach, Mbak buka baju dulu terus kau juga, biar asikkan?” katanya sambil membuka bajunya.

Aku juga tak mau ketinggalan, aku mulai membuka bajuku sampai pada akhirnya kami berdua telanjang bulat.

“Tubuh Mbak bagus banget,” kataku memperhatikan tubuhnya dari atas sampai ujung kaki, benar-benar tidak ada cacat, putih muCitra dan sekal.

Ia langsung mencumbuku dan tangan kanannya memegang penisku, dan mengarahkan ke vaginanya sambil berdiri.

“Aku udah enggak tahan Ben,” katanya.

Kuhalangi penisku dengan tangan kananku lalu kumainkan vaginanya dengan tangan kiriku.

“Nanti dulu ach, beginikan lebih asik.”

“Ach.. kamu nakal Ben! pantes si Citra mau,” katanya mesra.

“Ben..! Mbak..! lagi dimana kalian?” terdengar suara Citra memanggil dari luar.

“Hari ini guru lesnya tidak masuk jadi aku dipulangin, kalian lagi dimana sich?” tanyanya sekali lagi.

“Masuk aja Citra, kita lagi pesta nich,” kata Mbak Ratna.

“Mbak! Entar kalau Citra tau gimana?” tanyaku.

“Ben jangan panggil Mbak, panggil aja Ratna,” katanya dan ketika itu aku melihat Citra di pintu kamar sedang membuka baju.

“Ratna, aku ikut yach!” pinta Citra sambil memainkan vaginanya.

“Ben kamu kuat nggak?” tanya Ratna.

“Tenang aja aku kuat kok, lagian kasian tuch Citra udah terangsang,” kataku.

“Citra cepet sinih emut ‘Beni Junior’,” ajakku.

Tanpa menolak Citra langsung datang mengemut penisku.

“Mending kita tiduran, biar aku dapet vaginamu,” kataku pada Ratna.

“Ayo dech!” katanya kemudian mengambil posisi.

Ratna meletakkan vaginanya di atas kepalaku, dan kepalanya menghadap vagina Citra yang sedang mengemut penisku. Agen Domino 99

“Citra, aku maenin vaginamu,” katanya.

Tanpa menunggu jawaban dari Citra ia langsung bermain di vaginanya.Permainan ini berlangsung lama sampai akhirnya Ratna menegangkan pahanya, dan.. “Ach.. a.. aach.. aku keluar..” katanya sambil menyemprotkan cairan di vaginanya.

Cerita Sex Adik Tiriku Menjadi Budak Seks Ku

“Sekarang ganti Citra yach,” kataku.

Kemudian aku bangun dan mengarahkan penisku ke vaginanya dan masuk perlahan-lahan.

“Ach.. aach..” desah Citra.

“Kamu curang, Citra kamu masukin, kok aku tidak?” katanya.

“Abis kamu keluar duluan, tapi tenang aja, nanti abis Citra keluar kamu aku masukin, yang penting kamu merangsang dirimu sendiri,” kataku.

“Yang cepet dong goyangnya!” keluh Citra.

Kupercepat goyanganku, dan dia mengimbanginya juga.

“Kak, ach.. entar lagi gant.. a.. ach.. gantian yach, aku.. mau keluar ach.. aa.. a.. ach..!” desahnya, kemudian lemas dan tertidur tak berdaya.

“Ayo Ben tunggu apa lagi!” kata Ratna sambil mengangkang mampersilakan penisku untuk mencoblosnya.

“Aku udah terangsang lagi.”

Tanpa menunggu lama aku langsung mencoblosnya dan mencumbunya.

“Gimana enak penisku ini?” tanyaku.

“Penis kamu kepanjangan,” katanya, “tapi enak!”.

“Kayaknya kau nggak lama lagi dech,” kataku.

“Sama, aku juga enggak lama lagi,” katanya, “Kita keluarin sama-sama yach!” terangnya.

“Di luar apa di dalem?” tanyaku lagi.

“Ach.. a.. aach.. di.. dalem.. aja..” katanya tidak jelas karena sambil mendesah.

“Maksudku, ah.. ach.. di dalem aja.. aah.. ach.. bentar lagi..”

“Aku.. keluar.. ach.. achh.. ahh..” desahku sambil menembakkan spermaku.

“Ach.. aach.. aku.. ach.. juga..” katanya sambil menegang dan aku merasakan cairan membasahi penisku dalam vaginanya.

Akhirnya kami bertiga tertidur di lantai dan kami bangun pada saat bersamaan.

“Ben aku mandi dulu yach, udah sore nich.”

“Aku juga ach,” kataku.

“Ben, Citra, lain kali lagi yach,” pinta Ratna.

“Itu bisa diatur, asal lagi kosong kayak gini, ya nggak Ben!” kata Citra.

“Kapan aja kalian mau aku siap,” kataku.

“Kalau gitu kalian jangan mandi dulu, kita main lagi yuk!” kata Ratna mulai memegang penisku.

Akhirnya kami main lagi sampai malam dan kebetulan ayah dan ibu telepon dan mengatakan bahwa mereka pulangnya besok pagi, jadi kami lebih bebas bermain, lagi dan lagi. Kemudian hari selanjutya kami sering bermain saat situasi seperti ini, kadang tengah malam hanya dengan Ratna atau hanya Citra.

Oh bapak tiri, ternyata selain harta banyak, kamu juga punya dua anak yang siap menemaniku kapan saja, ohh nikmatnya hidup ini. Agen Domino 99